MEA, PARADOKS HARAPAN VS PERMASALAHAN
“SUDUT PANDANG BAGI PELAJAR”
Awal Januari 2016
menjadi sebuah momentum yang sangat besar bagi seluruh bangsa yang berada di
Asia Tenggara. Yaitu, dimulainya pasar bebas atau MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).
Kurang lebih dua dekade yang lalu tepatnya
Desember 1997 ketika KTT ASEAN yang diselenggarakan di Kota Kuala Lumpur,
Malaysia disepakati adanya ASEAN Vision 2020 yang intinya menitik beratkan pada
pembentukan kawasan ASEAN yang stabil, makmur, dan kompetitif dengan
pertumbuhan ekomoni yang adil dan merata serta dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial. sebuah
sistem perdagangan bebas antar negara anggota ASEAN, dalam sistem ini dihilangkan bea cukai dan negara-negara lain bebas dalam
memasukan barangnya.
MEA memiliki empat
pilar utama. Pertama, ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal
yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja
terdidik dan aliran modal yang lebih bebas. Kedua, ASEAN sebagai kawasan dengan
daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindugan
konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur,
perpajakan, dan e-commerce. Ketiga, ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan
ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan
prakarsa integrasi ASEAN untuk negara-negara Kamboja, Myanmar, Laos, dan
Vietnam. Keempat, ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan
perekonomian global di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam
jejaring produksi global.
Tujuan
dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN antara lain, meningkatkan
stabilitas perekonomian dan perdagangan serta investasi di kawasan ASEAN. Seperti yang kita ketahui menurunnya
pertumbuhan ekonomi global saat ini dan memanasnya situasi keamanan di Laut
Cina Selatan yang mengancam stabilitas ekonomi di Asia khususnya kawasan Asia
Tenggara, dapat menyebabkan menurunnya investasi dari luar negeri dan
ekspor-impor karena ketidak pastian situasi dan kondisi di kawasan.
Sebagai pelajar, ada
kesempatan dan peluang baru dalam dunia usaha. Pertama, kesempatan dibukanya
banyak lapangan pekerjaan dan didukung oleh para wirausahawan untuk
meningkatkan mutu dan kualitas usaha yang didirikannya agar bisa bersaing
dengan wirausahawan- wirausahawan dari negara lain untuk menciptakan persaingan
sehat dalam dunia usaha dan mendongkrak perekonomian dalam negeri khususnya
sektor riil.
Kedua, adanya
jaminan kepada para pekerja dari segi kesehatan, keamanan, serta tunjangan yang
diberikan oleh perusahaan agar para pekerja meningkatkan kualitas dan semangat
dalam melaksanakan pekerjaannya. Ketiga, produk barang dan jasa dari dalam
negeri dapat dipasarkan secara bebas tanpa adanya hambatan, seperti kebijakan
yang berlaku di negara lain dalam mengatur keluar masuk barang menjadi lebih
cepat dan efisien serta mengurangi ongkos pengiriman dan pengurusan barang.
Dan keempat,
pariwisata merupakan sektor yang menyumbang devisa terbesar karena, indeks kunjungan wisatawan dari manca negara
yang datang ke Indonesia meningkat 2 juta pertahun. Pemerintah dapat
meningkatkan promosi tempat wisata yang ada di Indonesia dari wisata alam,
laut, budaya, kuliner dan lain-lain. Sehingga wisatawan dari manca negara yang
berkunjung ke Indonesia akan meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.
Selain peluang
yang besar dan kesempatan yang luas, ada beberapa kekawatiran penulis yang
mungkin dapat terjadi di era pasar bebas ini. Di antaranya, kualitas SDM (sumber
daya manusia) khususnya para pelajar pemuda-pemudi. Banyak teman di antara
pelajar dari penulis yang pesimistif dengan di berlakukannya Masyarakat Ekonomi
ASEAN, karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan dan rendahnya keterampilan
yang dimiliki. Ada yang berpendapat kemampuan mereka belum mencukupi bahkan ada
yang mengatakan tidak peduli dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Mereka lebih
suka mementingkan hal-hal yang sedang tren di kalangan remaja yang ada di smartphone
atau HP mereka daripada belajar lebih giat lagi agar dapat bersaing dengan
SDM dari luar. Ini adalah realita yang sedang dihadapi generasi penerus bangsa
pada saat ini. persaingan yang sangat
ketat bisa jadi kita hanya akan menjadi penonton bukan pemain.
Berikutnya, ada
sektor-sektor yang dapat mempekerjakan tenaga asing sehingga pekerja Indonesia
dapat tersingkir dari mereka yang memiliki keterampilan dan kualitas
dibidangnya. Contohnya dalam bidang kesehatan, banyak lulusan dibidang
kedokteran yang sulit mendapatkan pekerjaan
di rumah sakit karena rata-rata
rumah sakit mencari dokter yang sudah benar-benar berpengalaman. Selanjutnya,
jasa logistik banyak jasa yang menawarkan pelayanan antar kirim barang dengan cepat,
terjamin langsung sampai kepenerima, dan rahasia. Sehingga banyak konsumen
beralih ke jasa kiriman milik Swasta dari pada pengiriman barang konvensional
yang dimiliki pemerintah karena ada anggapan pengiriman yang lambat, terkadang tak
sampai ke penerima, dan kurang terjaminnya keamanan.
Kemudian,
produk-produk buatan dalam negeri seperti produk kerajinan, elektronik,
otomotif, teksil dan lain sebagainya akan terancam dengan masuknya barang impor
dari luar negeri yang lebih berkualitas, awet dan bagus. Ini bisa menyebabkan
mundurnya sektor usaha khususnya pengusaha bermodal kecil sampai sedang. Bagi
pengusaha bermodal sedang mungkin masih bisa bertahan karena dapat secara
bertahap meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Sedangkan bagi pemodal
kecil akan mengalami defisit dalam usahanya seperti biaya Bahan baku yang
tinggi, ongkos pengiriman barang yang mahal, belum lagi biaya-biaya operasional
lainnya. Bahkan bisa menyebabkan usahanya sampai gulung tikar karena tidak bisa
bersaing di pasar bebas karena kalah dengan produk impor dari luar negeri
maupun dari Pemodal besar.
Dampak dari arus bebas investasi
menimbulkan eksploitasi sumber daya yang ada di Indonesia oleh perusahaan
asing. Apabila Indonesia tidak dapat menanganinya dengan baik maka eksploitasi
besar-besaran akan membuat Indonesia mengalami kerugian dan menyebabkan
kerusakan alam. Ketersediaan dan kualitas infrastruktur di Indonesia juga masih kurang. Jalur-jalur
darat, air maupun udara untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dan
Indonesia dengan negara lain belum memadai. Hal tersebut memberi dampak pada
kelancaran arus ekspor dan impor di Indonesia. Maka,
daripada itu di masa pemerintahan presiden Jokowi sekarang ini sedang memprioritaskan
pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan karena, harga barang dan jasa
di wilayah tersebut dua kali lebih mahal dari harga normal yang ada di kota.
Dengan memperbaiki infrastruktur yang ada di sana akan memudahkan dalam jalur
pasokan logistik agar bisa sampai ke semua wilayah perbatasan yang ada di
Indonesia dan semua harga barang dan jasa akan sama dengan harga yang ada di
kota-kota besar.
Dari penjabaran
di atas penulis dalam hal ini ingin menyampaikan kepada masyarakat Indonesia
khususnya pelajar, Masyarakat Ekonomi ASEAN bukan suatu hal yang menakutkan
melainkan sebagai tempat untuk menunjukkan potensi dan bakat yang ada didiri
kita masing-masing. Kita dapat mencari informasi dan menambah wawasan serta
ilmu juga keterampilan dari berbagai sumber yang ada agar kita bisa dan siap
untuk menghadapi rintangan yang terjadi di era pasar bebas ini. Apapun yang
pemerintah lakukan sekarang ini, demi kemajuan dan kesejahteraan Indonesia untuk
masa depan yang lebih baik harus kita dukung.
Marilah kita
merubah mindset atau cara berpikir kita, dari selalu banyak berkumpul
bersama teman-teman dan melakukan pembicaraan yang tidak baik menjadi berkumpul
untuk membahas materi pelajaran dan mencari hal-hal baru. Juga jangan mudah
terpedaya dengan ajakkan teman yang belum tentu baik untuk diri kita dan malah
merugikan diri kita sendiri. Cari tahu kelemahan diri sendiri agar dengan
kelemahan tersebut kita dapat belajar lebih giat untuk berusaha lagi untuk bisa
menutupi kelemahan tersebut dan jika kita memiliki kelebihan pertahankan
kelebihan yang kita miliki, jangan menyombongkan diri, dan jangan cepat berpuas
diri.
Harapan
penulis kepada Sekolah Kejuruan yang ada di tanah air agar terus meningkatkan
kualitas pengajaran khususnya dibidang-bidang kejuruan yang ada di sekolah
tersebut. Dan guru-guru yang memberikan materinya harus sesuai dengan
keahliannya atau berkompeten dibidangnya masing-masing. Juga sertifikasi yang
diberikan setiap sekolah kejuruan sebagai pengakuan bagi setiap siswa yang
sudah melakasanakan prakerind di perusahaan
dan terbukti memiliki keterampilan dan kemampuan dapat memberikan motivasi dan
modal untuk mereka agar bisa menunjukkan kemampuan dan prestasi mereka dalam
dunia kerja yang penuh persaingan.